Oleh: Sutarto (09709251030)
Bahasa adalah suatu sistem yang dihasilkan oleh alat ucap manusia dan dipakai oleh masyarakat untuk komunikasi, kerja sama dan identifikasi diri. Bahasa lisan merupakan bahasa primer, sedangkan bahasa tulisan adalah bahasa sekunder.
Sehat dan sakit merupakan keadaan yang menyatu dengan kehidupan manusia dan alam. Keadaan sehat dan sakit tersebut terus terjadi, dan manusia akan memerankan sebagai orang yang sehat atau sakit, akan tetapi bukan manusia saja yang bisa merasakan sehat dan sakit tetapi Bahasa juga bisa sehat dan sakit.
Konsep sehat dan sakit merupakan bahasa sehari-hari, terjadi sepanjang sejarah manusia, dan dikenal di semua lingkungan. Meskipun demikian untuk menentukan batasan-batasan secara eksak tidaklah mudah. Kesamaan atau kesepakatan pemahaman tentang sehat dan sakit secara universal adalah sangat sulit dicapai.
Sehat merupakan konsep yang tidak mudah diartikan sekalipun dapat kita rasakan dan diamati keadaannya. Misalnya, pada manusia, orang tidak memiliki keluhankeluahan fisik dipandang sebagai orang yang sehat. Sebagian masyarakat juga beranggapan bahwa orang yang “gemuk” adalah orang yang sehat, dan sebagainya. Jadi faktor subyektifitas dan kultural juga mempengaruhi pemahaman dan pengertian orang terhadap konsep sehat. Bukan saja pada manusia, pada Bahasa pun ikut merasakan sehat dan sakitnya, bahasa dikatakan sehat apabila bahasa itu digunakan sebagai sarana komunikasi atau interaksi antara dua orang atau lebih agar saling memahami satu sama lain dan juga hakekat dari bahasa atau komunikasi bisa tersampaikan. Bahasa dikatakan sakit apabila bahasa digunakan sebagai sarana komunikasi antara dua orang atau lebih akan tetapi dalam interaksinya tidak bisa saling memahami sebagai contoh Orang Jawa menggunakan bahasa Jawa dan Orang Bima menggunakan bahasa Mbojo (suku bima NTB) dalam komunikasi ini bahasa dikatakan sakit karena bahasa yang digunakan tidak saling dimengerti dan dipahami satu sama lain.
Sebagai satu acuan untuk memahami konsep “sehat”, World Health Organization (WHO) merumuskan dalam cakupan yang sangat luas, yaitu “keadaan yang sempurnan baik fisik, mental maupun sosial, tidak hanya terbebas dari penyakit atau kelemahan/cacat”. Dalam definisi ini, sehat bukan sekedar terbebas dari penyakit atau cacat. Orang yang tidak berpenyakit pun tentunya belum tentu dikatakan sehat. Begitu pun dengan bahasa. Bahasa juga dikatakan sehat apabila dalam berkomunikasi bahasa yang digunakan bisa saling dipahami. Akan tetapi walupun bisa saling dipahami belum tentu bahasa yang digunakan sehat. Misalnya menggunakan bahasa yang jorok-jorok untuk menyindir teman dansebagainya
Selasa, 10 November 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

apa maksud ......
BalasHapusbukan saja mahluk hidup yang bisa sakit tapi bahasa juga bisa sakit kalu di ekstensikan luas seluas-luasnya atau diintensikan dalam sedalam-dalamnya (kuliah filsafat)
BalasHapus